3 Hal yang Membuat Sukarno Dibenci Amerika

Sebagai proklamator bagi berdirinya sebuah bangsa baru yang bernama Indonesia, Presiden Sukarno menjadi tokoh sentral yang banyak menyita perhatian bangsa-bangsa lain di dunia. Perdana mentri Uni Soviet, Nikita Khurshchev pernah berkunjung ke Indonesia pada tanggal 18 Februari 1960 dan semakin menjalin hubungan erat kedua negara pada era perang dingin. Tidak hanya dengan pihak blok timur yang dimotori Uni Soviet, Sukarno juga menjalin hubungan baik dengan blok barat bersama Amerika Serikat.

Hal ini ditandai dengan adanya pertemuan antara Sukarno dan para petinggi negara paman sam, salah satunya adalah presiden ke 35 Amerika, John F Kennedy. Meskipun telah mengunjungi Amerika, keberadaan Sukarno ternyata tidak terlalu disukai oleh pemerintahan mereka. Lalu apa yang menjadi penyebabnya?, berikut ini adalah 3 hal yang menjadi penyebab Sukarno dibenci oleh Amerika Serikat.

3 Hal Utama yang Menyebabkan Sukarno Dibenci Oleh Amerika Serikat

  • Sukarno Dianggap Menyebrang Ke Haluan Komunis

Sebelum bertemu perdana menteri Uni Soviet, Nikita Khurshchev yang notabene merupakan anggota blok timur saat itu. Sukarno telah terlebih dahulu menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat yang mewakili blok barat. Era perang dingin yang tengah berkecamuk pada saat itu merupakan ajang pencarian koalisi yang strategis. Posisi Sukarno yang memilih untuk tidak memihak siapapun lewat gerakan nonblok menjadi incaran bagi kedua negara untuk berebut simpati dengan membawa ideologi mereka masing-masing.

Sebagai penggagas dari gerakan non blok yang tidak memihak siapapun, sebenarnya sah-sah saja bila Sukarno mengunjungi negara di blok barat maupun timur. Namun tindakan inilah yang ditafsirkan oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai tindakan menyeberang dan kecenderungannya terhadap blok timur yang berideologi komunis.

  • Sikap Politik Sukarno yang Menolak Keras Imperialisme dan Praktek Kapitalisme

Sejak meraih tampuk kepemimpinan sebagai presiden Indonesia, Sukarno menegaskan sikap tidak mendukung praktek kolonialsme dan ideologi kapitalisme yang kerap menyengsarakan negara-negara berkembang. Dalam pidatonya di forum perserikatan bangsa bangsa, ia mengecam negara-negara barat yang disebutnya tidak adil terhadap negara-negara berkembang. Disaat bersamaan pula, Sukarno juga mengkritik Malaysia yang dianggapnya sebagai negara boneka yang merupakan antek bangsa-bangsa kapitasil seperti Amerika dan Inggris.

  • Inisiator Gerakan Non Blok

Sebagai bangsa yang baru merdeka, Sukarno kala itu dihadapkan pada dua kutub kekuatan besar yang saling berseteru satu sama lain diajang perang dingin atau Cold War. Baik Amerika Serikat maupun Uni Soviet, keduanya berebut pengaruh Indonesia lewat beragam cara seperti politik, ekonomi hingga propaganda. Namun Sukarno tidak bergeming, alih-alih memihak pada salah satu blok, Indonesia malah menginisiasi sebuah gerakan non blok yang merangkul negara-negara berkembang di dunia. Akar dari gerakan ini berasal dari Konferensi Asia Afirka atau KAA yang diselenggarakan di Bandung.

Konferensi tersebut disponsori oleh Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, India dan Pakistan serta dihadiri oleh 29 negara yang mengutus delegasinya masing-masing. Sejak awal, GNB dijuluki oleh blok barat sebagai kumpulan negara-negara oportunis, bahkan president Amerika Serikat dalam sebuah pidatonya mencela GNB sebagai konfederasi negara-negara teroris dan beranggotakan orang-orang aneh. Secara tidak langsung hal ini terdengar seperti sindiran dari rasa tidak suka negara adidaya itu pada Indonesia yang dipimpin Sukarno.

Sedari awal Amerika Serikat memang tak menginginkan Indonesia yang dipimpin oleh Sukarno jatuh dan condong pada pemahaman komunisme. Selain itu sifat sang putra fajar yang terang-terangan menentang blok barat dengan ideologi kapitalismenya juga menjadi alasan bagi Amerika Serikat untuk menampakkan ketidak sukaan mereka. Belakangan sikap permusuhan ini diwujudkan dalam serangkaian agenda konspirasi untuk menggulingkan kekuasaan bapak proklamator itu sebagai presiden. Terbukti Sukarno akhirnya terjungkal dari kekuasaan dan digantikan oleh Suharto sebagai presiden Republik Indonesia.